Rabu, 04 Februari 2009
Pertemuan Pertama Komunitas MMupi
Rekan-rekan Multimedia dan Informatika, komunitas MMupi akan mengadakan pertemuan pertamanya pada akhir bulan February (tanggal kepastian menyusul). Saya telah mendapat lampu hijau dari 4 buah sekolah untuk kegiatan ini. Rencana lebih lanjut akan disharingkan di pertemuan ini. Bagi rekan-rekan yang tergerak untuk bergabung harap mendaftar kepada saya dengan mengirimkan email ke melissa@ubaya.ac.id dengan subject MMupi.
Multimedia dan Pendidikan = klise ?
Yah memang multimedia belakangan ini sering sekali dikaitkan dengan pendidikan. Brosur dan banner sekolah-sekolah yang berpromosi selalu mencantumkan multimedia sebagai sarana penunjang pembelajaran. Bukan hanya itu, multimedia pembelajaran sekarang seperti kacang goreng bermunculan di toko-toko buku hingga supermarket. Multimedia dan pembelajaran sudah begitu sering didengungkan oleh begitu banyak orang, tetapi kok lebih sering disangkutkan dengan aspek mencari duit ya ?
Ok, lupakan soal keterkaitan fulus tadi, ada atau tidak ada keterkaitan itu, saya melihat ada beberapa masalah dengan keterkaitan multimedia dan pendidikan yang sekarang ini menggejala :
1. Hanya sekolah "international" (baca : kaya) yang mampu mengaplikasikan multimedia pendidikan. Tentu saja karena untuk multimedia pendidikan, dibutuhkan Projector dan Computer dan koneksi internet dan juga dana untuk membeli atau membayar seseorang untuk membuat aplikasi multimedia pendidikan ini.
2. Multimedia pendidikan dirancang hanya agar pelajar senang. Karena itu multimedia pendidikan seringkali berbentuk game, penuh dengan animasi dan gambar yang lucu-lucu, entah berhubungan atau dihubung-hubungkan dengan topik yang dibahas.
3. Multimedia pendidikan tidak dimanfaatkan dengan tepat guna. Multimedia pendidikan dirancang oleh orang-orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia pendidikan atau orang-orang yang sama sekali tidak mengerti bagaimana merancang suatu produk multimedia yang baik.
Seluruh permasalahan ini dapat dianalogikan sebagai seseorang yang meleset saat menembakkan panahnya. Meleset karena ia memakai anak panah yang desainnya tidak tepat sehingga keseimbangannya lemah, juga karena ia salah mengenali target sehingga ia salah menetapkan tujuan memanahnya, dan terutama karena ia sebenarnya bukan pemanah, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana cara memanah yang baik.
Multimedia pendidikan tidak berjalan mulus karena target sasaran yang membutuhkan tidak tepat. Mereka yang membutuhkan justru tidak punya, sedangkan yang tidak terlalu membutuhkan malah punya. Sekolah-sekolah terbaik biasanya dilengkapi dengan guru-guru dan alat peraga atau fasilitas yang cukup OK, sehingga mereka dapat menjelaskan dengan gamblang dan mampu memberi semangat agar anak didiknya semangat untuk belajar. Tentu adanya multimedia pendidikan dapat menambah laju proses ini, tetapi ibaratnya kecepatan yang semula sudah 70 % menjadi 90 %. Sedangkan sekolah miskin dengan guru-guru yang sudah terlalu banyak bebannya mungkin malah mengalami kesulitan dengan sedikitnya fasilitas entah buku, alat peraga, dsb. Mereka sulit menerangkan dengan gamblang, dan jika seorang murid sulit untuk mengerti tentu dapat dimaklumi jika ia tidak bersemangat untuk belajar. Karena belajar seperti sebuah kegagalan yang terulang terus dan terus.
Yang kedua multimedia pendidikan gagal karena sebagai suatu alat bantu, ia tidak dirancang dengan tepat sesuai tujuan. Seperti saya sebutkan sebelumnya, game, gambar, lagu, suara atau apa pun dirancang dengan meriah dan dihubungkan dengan suatu topik pengajaran, dan voila, jadilah apa yang disebut sebagai multimedia pendidikan itu. Saat desain produk ini, tidak pernah dipertimbangkan apakah gambar, game, lagu, atau apa pun itu sebenarnya sesuai tujuan atau malah membuat peserta didik kacau konsentrasinya ? Desain yang kacau dan tidak cocok dengan tujuan ini yang seringkali membuat multimedia pendidikan bukannya membuat pendidikan lebih baik tetapi malahan menyeret pendidikan menjadi chaos.
Dan terakhir, siapakah aktor di belakang pengerjaan multimedia pendidikan ini ? Apakah mereka orang-orang yang mengerti multimedia yang efektif dan efisien itu seperti apa ? Atau mereka orang-orang yang belakangan ini suka menyebut diri mereka seniman multimedia tapi tidak pernah menghasilkan produk yang memanusiakan manusia ? Dan di antara para aktor tersebut, apakah ada orang dari dunia pendidikan yang dilibatkan ? Seperti pernah dikatakan oleh seorang rekan, bagaimana mungkin seseorang dapat membuat sebuah alat yang membantu pengajaran jika ia sama sekali belum pernah mengajar ?
Sedangkan dengan menjamurnya program studi Design Grafis, Desain Komunikasi Visual, Multimedia, jika semua program itu dikelola dengan benar, bukankah seharusnya banyak orang yang mumpuni di bidang ini ? Jadi marilah, orang-orang yang merasa sudah punya teori dan kemampuan praktis cukup, mari kita menoleh ke dunia pendidikan dan buatlah multimedia pendidikan yang tepat guna !
Ok, lupakan soal keterkaitan fulus tadi, ada atau tidak ada keterkaitan itu, saya melihat ada beberapa masalah dengan keterkaitan multimedia dan pendidikan yang sekarang ini menggejala :
1. Hanya sekolah "international" (baca : kaya) yang mampu mengaplikasikan multimedia pendidikan. Tentu saja karena untuk multimedia pendidikan, dibutuhkan Projector dan Computer dan koneksi internet dan juga dana untuk membeli atau membayar seseorang untuk membuat aplikasi multimedia pendidikan ini.
2. Multimedia pendidikan dirancang hanya agar pelajar senang. Karena itu multimedia pendidikan seringkali berbentuk game, penuh dengan animasi dan gambar yang lucu-lucu, entah berhubungan atau dihubung-hubungkan dengan topik yang dibahas.
3. Multimedia pendidikan tidak dimanfaatkan dengan tepat guna. Multimedia pendidikan dirancang oleh orang-orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia pendidikan atau orang-orang yang sama sekali tidak mengerti bagaimana merancang suatu produk multimedia yang baik.
Seluruh permasalahan ini dapat dianalogikan sebagai seseorang yang meleset saat menembakkan panahnya. Meleset karena ia memakai anak panah yang desainnya tidak tepat sehingga keseimbangannya lemah, juga karena ia salah mengenali target sehingga ia salah menetapkan tujuan memanahnya, dan terutama karena ia sebenarnya bukan pemanah, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana cara memanah yang baik.
Multimedia pendidikan tidak berjalan mulus karena target sasaran yang membutuhkan tidak tepat. Mereka yang membutuhkan justru tidak punya, sedangkan yang tidak terlalu membutuhkan malah punya. Sekolah-sekolah terbaik biasanya dilengkapi dengan guru-guru dan alat peraga atau fasilitas yang cukup OK, sehingga mereka dapat menjelaskan dengan gamblang dan mampu memberi semangat agar anak didiknya semangat untuk belajar. Tentu adanya multimedia pendidikan dapat menambah laju proses ini, tetapi ibaratnya kecepatan yang semula sudah 70 % menjadi 90 %. Sedangkan sekolah miskin dengan guru-guru yang sudah terlalu banyak bebannya mungkin malah mengalami kesulitan dengan sedikitnya fasilitas entah buku, alat peraga, dsb. Mereka sulit menerangkan dengan gamblang, dan jika seorang murid sulit untuk mengerti tentu dapat dimaklumi jika ia tidak bersemangat untuk belajar. Karena belajar seperti sebuah kegagalan yang terulang terus dan terus.
Yang kedua multimedia pendidikan gagal karena sebagai suatu alat bantu, ia tidak dirancang dengan tepat sesuai tujuan. Seperti saya sebutkan sebelumnya, game, gambar, lagu, suara atau apa pun dirancang dengan meriah dan dihubungkan dengan suatu topik pengajaran, dan voila, jadilah apa yang disebut sebagai multimedia pendidikan itu. Saat desain produk ini, tidak pernah dipertimbangkan apakah gambar, game, lagu, atau apa pun itu sebenarnya sesuai tujuan atau malah membuat peserta didik kacau konsentrasinya ? Desain yang kacau dan tidak cocok dengan tujuan ini yang seringkali membuat multimedia pendidikan bukannya membuat pendidikan lebih baik tetapi malahan menyeret pendidikan menjadi chaos.
Dan terakhir, siapakah aktor di belakang pengerjaan multimedia pendidikan ini ? Apakah mereka orang-orang yang mengerti multimedia yang efektif dan efisien itu seperti apa ? Atau mereka orang-orang yang belakangan ini suka menyebut diri mereka seniman multimedia tapi tidak pernah menghasilkan produk yang memanusiakan manusia ? Dan di antara para aktor tersebut, apakah ada orang dari dunia pendidikan yang dilibatkan ? Seperti pernah dikatakan oleh seorang rekan, bagaimana mungkin seseorang dapat membuat sebuah alat yang membantu pengajaran jika ia sama sekali belum pernah mengajar ?
Sedangkan dengan menjamurnya program studi Design Grafis, Desain Komunikasi Visual, Multimedia, jika semua program itu dikelola dengan benar, bukankah seharusnya banyak orang yang mumpuni di bidang ini ? Jadi marilah, orang-orang yang merasa sudah punya teori dan kemampuan praktis cukup, mari kita menoleh ke dunia pendidikan dan buatlah multimedia pendidikan yang tepat guna !
Pendidikan = Investasi
Judul di atas jika dibaca, banyak orang akan mafhum dan legawa. Padahal jika keberhasilan sebuah investasi selalu dikaitkan dengan keberhasilan finansial, maka sebenarnya saya tidak yakin bahwa pendidikan adalah suatu investasi. Berapa banyak konglomerat yang kaya karena ia berpendidikan ? Berapa banyak orang kaya yang dihasilkan dari dunia pendidikan ? Adakah 1 persen wisudawan akhirnya mampu jadi "orang" (baca : orang kaya)?
Belakangan ini dunia pendidikan semakin ditarik ke area bisnis. Mendirikan sekolah adalah bisnis dan investasi. Sekolah-sekolah internasional berjamuran, tampaknya dengan pertimbangan bisnis (semoga saya salah). Jaman dulu sekolah dan universitas yang baik speaks for itself, tidak perlu menyewa PR dan marketing profesional, tetapi jaman sekarang ini sekolah biasa bisa digandrungi karena kemampuan PR yang hebat dan sekolah OK bisa terpuruk karena PR yang jelek. Di satu sisi para remaja ingin berhura-hura sambil tetap memperoleh prestige sebagai orang sekolahan (mau keren tapi tidak mau capek bikin tugas). Di sisi lain para PR menawarkan konsep sekolah yang fun, yang menawarkan konsep happy dari sejak sekolah sampai lulusnya pun happy ending karena kalau lulus nanti kamu bisa jadi bos untuk dirimu sendiri, tidak kerja buat orang lain (ntar kalau dimarahin bos, ga fun dong).
Dan gong dari gejala ini adalah saat pendidikan dianggap berhasil jika banyak fulus tercurah bagi sarjana ini. Betapa lucunya, ternyata pendidikan dinilai keberhasilannya dari apa yang dia peroleh. Saat dia bersekolah dia mengambil dan mengambil tanpa pernah memberi, dan saat dia lulus pun ternyata keberhasilannya diukur dari seberapa banyak dia dapat mengambil. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk dinilai dari apa yang diberikan keluar. Nilai altruis benar-benar tidak keren dan tidak penting. Nilai egoistis adalah nilai terpenting. Tidak heran manusia yang katanya berpendidikan pun bisa bersikap layaknya anjing yang berebut sepotong daging. Karena manusia sudah dinilai jauhhhh lebih rendah dari natur mulianya.
Sekali lagi, semoga saya salah...
( diambil dari www.mangga-mikir.blogspot.com )
Belakangan ini dunia pendidikan semakin ditarik ke area bisnis. Mendirikan sekolah adalah bisnis dan investasi. Sekolah-sekolah internasional berjamuran, tampaknya dengan pertimbangan bisnis (semoga saya salah). Jaman dulu sekolah dan universitas yang baik speaks for itself, tidak perlu menyewa PR dan marketing profesional, tetapi jaman sekarang ini sekolah biasa bisa digandrungi karena kemampuan PR yang hebat dan sekolah OK bisa terpuruk karena PR yang jelek. Di satu sisi para remaja ingin berhura-hura sambil tetap memperoleh prestige sebagai orang sekolahan (mau keren tapi tidak mau capek bikin tugas). Di sisi lain para PR menawarkan konsep sekolah yang fun, yang menawarkan konsep happy dari sejak sekolah sampai lulusnya pun happy ending karena kalau lulus nanti kamu bisa jadi bos untuk dirimu sendiri, tidak kerja buat orang lain (ntar kalau dimarahin bos, ga fun dong).
Dan gong dari gejala ini adalah saat pendidikan dianggap berhasil jika banyak fulus tercurah bagi sarjana ini. Betapa lucunya, ternyata pendidikan dinilai keberhasilannya dari apa yang dia peroleh. Saat dia bersekolah dia mengambil dan mengambil tanpa pernah memberi, dan saat dia lulus pun ternyata keberhasilannya diukur dari seberapa banyak dia dapat mengambil. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk dinilai dari apa yang diberikan keluar. Nilai altruis benar-benar tidak keren dan tidak penting. Nilai egoistis adalah nilai terpenting. Tidak heran manusia yang katanya berpendidikan pun bisa bersikap layaknya anjing yang berebut sepotong daging. Karena manusia sudah dinilai jauhhhh lebih rendah dari natur mulianya.
Sekali lagi, semoga saya salah...
( diambil dari www.mangga-mikir.blogspot.com )
Langganan:
Postingan (Atom)