Sekolah pertama yang kita tinjau adalah TK dan SD Gracia. Kita disambut dengan ramah oleh ibu kepala sekolah, selanjutnya kita juga diajak melihat-lihat pengajaran di kelas-kelas. Seru juga melihat gabungan antara semangat dan rasa malu yang ditampilkan oleh anak-anak kecil itu. Kesan pertama kami, sekolah ini sudah menciptakan lingkungan yang cukup kondusif untuk belajar mengajar. Seluruh ruang kelas diberi berbagai hiasan yang bukan hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi sebenarnya adalah salah satu cara belajar yang tidak terasa seperti belajar.

Setelah meninjau kelas-kelas, kita juga diajak melihat berbagai ruangan fasilitas pendukung, ada perpustakaan, UKS, ruang multimedia, dan ada pula ruang komputer. Yah, ternyata komputernya sangat bervariatif dan menyimpan berbagai bibit unggul (baca: virus-virus unggulan :) ). Beberapa anggota segera berkomentar bahwa daerah ini harus dibenahi.
Setelah selesai meninjau, kita disuguhi minuman dingin dan kue-kue. Sayang tidak bisa berlama-lama mengobrol karena kita harus segera berangkat ke sekolah yang kedua. Dengan meninggalkan janji untuk kembali lagi dengan tangan yang tidak kosong, kami berpamitan untuk menuju ke sekolah kedua. Di sini, anggota yang tadi ketinggalan akhirnya bergabung dengan kami sehingga sekarang kami memakai 2 buah mobil.
Di sekolah yang kedua, kita semua melongo, wah, sekolah ini amat berbeda dari sekolah gracia. Sekolah ini amat sempit, saking sempitnya, kita semua tidak mungkin masuk ke sana, maka kami memutuskan untuk bergantian masuk.
Di sekolah yang serba minimalis ini, tidak ada cukup ruangan untuk seluruh kelas yang ada. Solusinya ada kelas-kelas yang harus digabungkan, selain itu seluruh space yang ada harus dipakai semaksimal mungkin, karena itu bahkan dapur dan lorong di depan pintu masuk pun harus dipakai untuk sebuah kelas.

Sebenarnya sekolah ini sudah sering diliput oleh berbagai media, ironisnya liputan tinggal liputan semata, pertolongan tidak pernah mampir ke sekolah ini. Dalam hati saya berdoa, semoga kami juga tidak sekedar melihat-lihat saja, semoga ada yang dapat kami lakukan untuk sekolah semacam ini, karena pendidikan bukan hanya untuk orang berada. Bahkan sebenarnya walau menyandang nama Multimedia, MMupi sama sekali tidak dimaksudkan untuk membantu pendidikan orang berada saja. Seperti ulasan pertama saya, terkadang yang membutuhkan tidak memiliki sedang yang memiliki sebenarnya tidak membutuhkan.
Akhir kisah, selesailah peninjauan pertama kita, karena beberapa anggota harus segera mengikuti kuliah, kita segera mohon diri kepada bapak Hamid yang sudah dengan sabar menerangkan segala sejarah dari sekolah Tarbiyatul Aitam. Dan ternyata rekan-rekan yang harus segera kuliah tidak bisa masuk kelas tepat waktu karena ban salah satu mobil harus ditambal...